15 December 2015

20 June 2015

Mengenal Flu Singapura

Flu Singapura, bagi mereka yang memiliki anak bayi/balita pasti pernah mendengarnya. Atau mungkin balitanya pernah terkena penyakit ini. Tapi kalau belum, baiklah... let me tell you.

Dari namanya, kita akan tahu kalau penyakit yang menyerang anak berusia 1 - 5 tahun (pada kondisi tertentu bisa sampai 10 tahun) ini datangnya dari negara tetangga (Ternyata tidak demikian sodarah :-D). Konon, sewaktu mewabah Pemerintah Singapura sampai meliburkan Sekolah tingkat Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Seperti umumnya Flu, penyakit ini bersumber dari virus. Namun tidak seperti Flu Burung, penyakit yang menyerang bagian kaki, tangan, dan mulut ini tidak terlalu berbahaya. Meskipun demikian, tetap kita perlu waspada.

Sudah 3 hari ini Al terserang Flu Singapura tertular dari bibi kecilnya (adik istri) dan teman-teman di lingkungan tempat tinggal neneknya. Awalnya ketika bibir bibinya pecah-pecah kami semua mengira itu sariawan. Tapi ketika banyak anak-anak dengan kondisi serupa termasuk tiba-tiba menjelang puasa Al seperti mengeluh kepedasan, baru saya bisa menyimpulkan kalau mereka semua terserang Flu Singapura. Karena sariawan biasa tak mungkin menular kemana-mana.

Apa penyebab Flu Singapura dan Bagaimana Penularannya ?

Flu Singapura disebabkan oleh Virus, pastinya. Virus RNA (kalau pernah belajar Biologi di SMA, pasti mengenal RNA dan DNA) yang masih tergolong entrovitus. Ada banyak jenis entrovirus dari yang hanya memerlukan rawat jalan hingga yang menyebabkan kematian (Entrovirus 71)

Karena penyebabnya virus, sudah barang pasti menular dengan cepat. Flu Singapura yang dalam istilah kedokteran dikenal dengan Hand, Foot, dan Mouth Desease (HFMD) menular melalui kontak langsung dengan penderita. Jadi inget kalau Al main bersama bibinya beberapa hari menjelang badannya panas. Penularan langsung dari orang ke orang melalui air liur, tinja, atau cairan juga dapat terjadi. Sehingga penting agar orang tua membatasi anak yang terserang Flu Singapura untuk bermain bebas hingga benar-benar sembuh.

Bagaiamana Gejala dan Penanganannya ?

Seperti yang terjadi pada Al, awalnya badannya panas seperti demam pada umumnya. Waktu hari Selasa kemarin, panas badan Al sudah terus naik hingga puncaknya di malam hari mencapai 39 derajat celcius. Untungnya saat itu Al masih mau minum susu dari botol maupun ASI. Hanya memang nafsu makannya mulai berkurang.

Muncul ruam di kaki, tangan, mulut, dan bagian popoknya
Keesokan harinya gejala mirip sariawan pun muncul di mulut. Ruam pun tak hanya terjadi disitu. Kaki, tangan, hingga bagian popok Al tiba-tiba memperlihatkan kondisi serupa. Seperti sariawan, penyakit ini menyebabkan anak menjadi susah menelan sehingga akhirnya anak menjadi malas makan.

Meski tidak banyak makanan yang bisa masuk, Al masih suka minum. Tapi hanya ASI saja. Bundanya sempat khawatir karena tak satupun makanan padat yang masuk ke tubuh Al. Sehingga dua hari kemarin Al tampak sangat lemas dibanding sebelumnya.

Ayah dan Bunda tak perlu khawatir berlebihan. Jika anak masih mau makan atau minum sekalipun minum ASI, tak perlu menjadi parno. Terus saja berikan stimulus agar anak mau makan. Bisa dimulai dengan makanan cair, lembek, dan berangsur-angsur makanan padat. Pelan-pelan saja. Seperti penyakit flu pada umumnya, Flu Singapura akan membaik sendirinya dalam waktu 7-10 hari.

Anak penderita Flu Singapura membutuhkan pertolongan dokter jikalau terjadi komplikasi seperti demam yang melebihi 39 derajat celcius, benar-benar tidak mau makan (termasuk minum ASI), sesak, diare, atau menunjukkan gejala dehidrasi.

Alhamdulillah, hari ini (20/6) Al sudah aktif kembali kendati belum terlalu mau makan bubur. Tadi pagi dan siang tiba-tiba dia makan sendiri rotinya. Sore ini ketika disuapi bubur, memang hanya beberapa sendok yang bisa masuk belum selahap biasanya. Semoga beberapa hari kedepan jadi semakin sehat, kesian ayah bundanya yang hampir tak tidur di malam hari :-D

17 June 2015

Jalan-jalan ke Curug Nangka Bareng Ayah Bunda

Awal bulan Juni ini, Al main-main di Curug Nangka. Ini kali pertama buat al main di Curug. Seperti ke Pantai pertama kali, dia agak takut sama gemuruh-gemuruh air. Tapi sama airnya ga mau lepas lagi deh.


Posting selengkapnya bisa dilihat di Blog Ayah nih. Gallerinya bisa dilihat disini :





Photo Gallery by QuickGallery.com

10 June 2015

Mengenalkan Shalat Sejak Usia Dini

Banyak dari kita bertanya, kapan sebaiknya mengenalkan shalat kepada anak. Sementara perintah Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya mengingatkan para orang tua untuk menyuruh anaknya shalat pada usia tujuh tahun dan 'memukul'nya jika tidak juga shalat di usia sepuluh tahun.

Kalau menurut saya sendiri, seperti kata pepatah... Belajar di waktu kecil itu ibarat mengukir di atas batu. Layaknya bayi, tak ada yang keluar dari perut ibunya langsung berlari. Semua berproses dengan belajar berjalan mulai dari merayap-merangkak-berjalan-berlari meski tertatih dan sering terjatuh. Seperti itulah langkah mengenalkan shalat kepada anak. Semakin dini usia anak mengenal shalat akan baik untuknya dan untuk kita orang tuanya.

Tapi, bagaimana mengajarkan shalat pada anak usia dini?

Sebagai orang tua, kita sebaiknya memahami pola perkembangan anak sehingga mengetahui bagaimana cara anak belajar pada tahapan usianya. Usia 0-2 tahun misalnya. Anak belajar melalui meniru perilaku dan aktifitas orang dewasa. Sehingga, cara yang paling tepat mengenalkan shalat di usia ini adalah rutinitas orang tua dalam shalat. Rasanya, sangat tidak mungkin anak akan kenal dengan shalat jika tidak pernah melihat orang tuanya shalat.

Seperti yang Al terima di rumah. Bundanya adalah guru shalat pertamanya. Bunda selalu shalat di dekat Al meski kadang-kadang menguji kekhusyuaan. Terkadang pula, saya memang sengaja tidak berangkat ke musholla atau masjid agar dapat berjamaah di rumah sehingga Al sudah mulai mengenal shalat berjamaah sejak usia dini.

Peci, Sajadah, atau Mukena adalah alat main simbolik yang baik untuk mengenalkan shalat
Anak usia ini juga sangat tertarik dengan simbol. Mukena, sajadah, sarung, atau peci adalah peralatan yang seharusnya dikenakan orang tua sekaligus disiapkan untuk anak dalam rangka mengenal shalat. Setelah usianya 1 tahun, anak akan mulai memasuki tahapan main simbolik sehingga peralatan shalat tersebut sangat efektif dan menarik minat anak.

Al punya peci. Kelengkapan dari baju koko yang dibeli bundanya. Awalnya ketika dipakaikan peci, Al sering membukanya sendiri. Namun, setelah beberapa kali melihat saya berjama'ah bersama bundanya sambil mengenakan peci, lama kelamaan Al jadi tertarik. Seperti foto di bawah ini, akhirnya Al ikut shalat di atas sajadah lengkap dengan peci di kepala.

Lagi pura-pura sujud, lihat kamera lalu 'nyengir :))
Oya, tak perlu menekankan urutan gerakan shalat kepada anak ya. 0-7 tahun adalah masa buat anak mengeksplore kecintaannya pada shalat dan menemukan sendiri pola-pola urutan gerakan shalat dari apa yang dilihat dan dialaminya sehingga nanti di usia 7 tahunnya dia mulai terbiasa dan tak terbebani dengan shalat.

Selamat mencoba....

20 May 2015

Haruskan Bayi diajari Bicara ?

dede, mimi cucu yu
Kebanyakan orang tua suka mencadel-cadelkan cara bicaranya kepada bayi. Padahal, anak perlu belajar Bahasa Indonesia yang baik dan benar sejak usia dini. Berbicara dengan meniru cara bicara anak atau balita justru akan membingungkan mereka. Inilah salah satu kesalahan yang sering dilakukan para orang tua terhadap anaknya.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, perkembangan bicara bayi sebenarnya dimulai dari memahami banyak makna kata. Nah, disinilah proses mendengar menjadi sangat penting. Jika orang tua bicara tidak sesuai (seperti mencadelkan), tentu akan membuat pemahaman bahasa anak juga menjadi terganggu. Anak menjadi bingung dengan mana kata yang benar (dalam contoh di atas, susu atau cucu). Padahal pemahaman makna kata adalah awal dari komunikasi verbal, yang selanjutnya akan berpengaruh pada kemampuan bicara dan membaca.


Haruskan diajari bicara?

Yang harus ayah bunda pahami bahwa perkembangan setiap anak berbeda-beda. Ada anak yang sudah mampu berbicara di usia satu setengah tahun. Namun ada pula yang baru dapat mengucapkan satu atau dua kata di awal usia dua tahun. Semua bergantung pada stimulus yang diberikan oleh orang tua atau pengasuh terdekatnya. Sehingga sekali lagi penting bagi Ibu untuk senantiasa mem-verbalkan apa yang sedang dilakukan atau diperbuat untuk anaknya.

Jelaskan semua yang ayah/ibu lakukan melalui kalimat yang lengkap kepada anak. Misal ketika ayah sedang memanaskan motor di pagi hari. Ayah bisa bicara kepada bayi , "Ayah sedang memanaskan mesin sepeda motor. Mesin perlu dipanaskan agar kendaraan siap untuk dipakai" dan seterusnya. Akan lebih baik jika Ayah atau bunda melengkapi penjelasannya dengan ilmu yang ilmiah. Tak perlu merasa kalau anak tidak memahami apa yang sedang dibicarakan. Usia awal ini (0-2 tahun), anak hanya perlu memperkaya kosakata yang dimilikinya serta belajar menghubungkan kosakata baru tersebut pada benda atau kegiatan yang dialaminya.

Bicara dengan nada dan intonasi yang baik. Selain menggunakan kalimat-kalimat yang jelas, nada dan intonasi juga perlu diperhatikan. Artikulasi yang jelas dan penekanan ada tiap-tiap suku kata akan menarik perhatian anak untuk mendengar dengan seksama dan bermanfaat bagi kemampuan berbicaranya.

Bernyanyi atau memutarkan lagu-lagu sederhana untuk anak juga sangat berguna bagi bayi. Selain membangun kecerdasan musikal, kepekaan bayi terhadap musik atau irama akan membantu bayi mempelajari banyak bahasa. Dalam buku Mengapa Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu, drg Wismiarti menyarankan ibu untuk les vokal dalam rangka menyambut kehadiran buah hatinya.

Nah, ketiga metode di atas kami praktikkan untuk Alaric tercinta. Memang terkadang nenek masih suka mencadel-cadelkan kosatakata yang diucapkan. Bahkan ayah seringkali mengeluarkan kosakata 'aneh' yang tak bermakna sehingga sering ditegur oleh bunda :-D *terima kasih bunda, selalu mengingatkan. Sejauh ini, Al sudah mulai memahami banyak kata. Tapi, di usianya yang 14 bulan ini baru satu kata yang fasih diucapkannya : Mamma. Mudah-mudahan kami tetap istiqomah memberikan stimulus terus menerus.

Dan terakhir, tak perlu kita bandingkan anak kita dengan yang lainnya. Tugas kita sebagai orang tua adalah terus membangun mereka menjadi generasi yang gemilang.

15 May 2015

Agar Bayi Paham Arti Kata

Sebagai orang tua, mengetahui perkembangan anaknya adalah hal yang penting dilakukan. Termasuk perkembangan bahasa bayi. Semakin dini kita mengamati perkembangannya, semakin cepat pula kita mengetahui apakah ada masalah atau keterlambatan dalam berkomunikasi. Misalnya tahap bicara bayi.

Bayi mulai berkomunikasi dengan menangis, lalu kemudian tersenyum. Bayi usia 0-6 bulan akan menangis bila merasa sakit atau stress seperti ketika lapar, pipis, atau pup. Secara bertahap bayi akan mulai menggunakan komunikasi vokal dengan mengoceh atau mengeluarkan suara-suara seolah-olah sedang berbicara.

Bagaimana agar bayi memahami banyak kata?

Di samping itu semua, kemampuan bicara bayi dimulai dengan pemahaman terhadap kata-kata. Inilah pentingnya seorang ibu harus rajin bicara kepada bayinya bahkan sejak dalam kandungan. Kenapa harus sejak dalam kandungan? Karena otak pusat pendengaran janin sudah berfungsi sejak usia 28 minggu. Suara pertama yang bayi kenal adalah suara ibu. Sehingga seiring perkembangannya sampai lahir hingga masa-masa krusial di usia 0-2 tahun, Allah berikan waktu bagi ibu untuk lebih banyak dekat dan berinteraksi dengan bayinya. Beruntunglah para suami yang punya isteri 'cerewet' (*Colek bunda Al :-D).

Alaric waktu usia 12 bulan
Al sendiri hari ini sudah 14 bulan lebih usianya. Dia sudah mulai paham banyak kata yang diucapkan. Begitu pula dengan beberapa instruksi, Al sudah bisa mengikutinya. Sejak usia 9 bulan rata-rata bayi akan memahami atau menengok pada lebih dari 20 benda yang kita ucapkan. Jumlahnya akan terus bertambah sesuai dengan berapa banyak kata yang sering diucapkan oleh Ibu atau Ayahnya.

Sekali lagi, penting bagi ibu untuk senantiasa memverbalkan apa yang sedang dilakukan terhadap bayinya. Seperti saat mengganti popok, ibu harus bicara "Sekarang kita akan mengganti popok. Ibu buka ya popoknya," sambil membuka popok. Nanti ketika kita bicara tentang popok, Anak akan langsung mengerti dan menoleh atau bahkan menunjuk pada popok.

Rasanya tak lengkap jika saya tidak mendokumentasikan kata-kata yang sudah dipahami oleh Al saat ini :

  • Mama
  • Ayah
  • Duduk
  • Air
  • Bulan
  • Hujan
  • Kucing/Meong
  • Bebek
  • Sendok
  • Makan
  • Minum (Nunjuk ke arah dispenser)
  • Dadah
  • Pesawat
  • Sepatu
  • Popok
  • Baju
  • Gelas
  • Mobil
  • Nek Umi (Neneknya di Tangerang)
  • Ati Syiqna (Bibinya)
  • Ati Iyin (Bibinya)
  • Buku
  • Halo (Seolah-olah pegang handphone dan mendekatkan tangannya ke telinga)
  • Kepala
  • Tangan
  • Kaki
  • Bobo
  • Nen' (Minum Asi)
  • Susu (Menunjuk kardus susu atau botol susunya)
  • Sepeda
  • Sekolah
  • Motor (Kenal banget sama sepeda motor ayahnya atau bukan)
  • The Cars (Menunjuk Tas yang ada gambar karakter kartun The Cars)
  • Sonic (Menunjuk lemari yang ada karakter Sonic)
  • Minion (Boneka minionnya)
  • Ikan
  • Kipas (Maksudnya kipas angin)
  • Sisir
  • Kereta (Mengambil mainan keretanya)
  • Bola
  • Bunga
  • Daun
  • Burung
  • Tempat Sampah (Bahkan Al sudah tau kalau kita bicara Sampah perlu dibuang ke tempat sampah, dia langsung merespon dengan berjalan ke arah tempat sampah dan membuangnya kesana)
Di tulisan berikutnya insya Allah saya akan share lagi tentang bagaimana bayi berkomunikasi.

25 April 2015

Melatih Bayi Berjalan

Sesuai janji saya sebelumnya, kali ini saya ingin berbagi bagaimana men-stimulus atau melatih bayi berjalan. Al sendiri mulai berjalan di usia 1 tahun. Sekali lagi, ayah bunda tak perlu khawatir jika bayi belum bisa berjalan di usia tersebut. Normalnya perkembangan berjalan bayi ini berada pada usia antara 10-18 bulan. Selama tidak ada kelainan dengan bentuk kaki bayi, terus saja berikan stimulus yang tepat.

Lalu, stimulus apa saja yang sebaiknya diberikan dalam rangka melatih bayi agar bisa berjalan? Berikut ini, beberapa stimulus yang bisa diberikan kepada bayi. Beberapa dari pengalaman kami kepada Alaric, sementara yang lainnya berdasarkan teori perkembangan yang pernah saya pelajari.

  • Latih untuk dapat berdiri tegak. Sejak pulang dari mudik, ibu saya (Neneknya Al) sudah menyarankan untuk mulai menegakkan Alaric di usia 6-7 bulan. Tentunya saat itu belum bisa berdiri tegak, apalagi dilepas untuk bisa berdiri sendiri. Tapi dengan memberikan stimulus seperti ini, bayi akan mulai sadar dengan tubuhnya. Sadar bahwa ada beberapa bagian tubuhnya (seperti kaki dan tulang belakang) yang dapat digunakan untuk dia berdiri tegak seperti orang dewasa. Nah, di usia 9-10 bulan, mulai bantu dia untuk bisa berdiri tegak dengan menjejakkan kakinya selama kurang lebih semenit. Jika jatuh terduduk, terus berikan motivasi agar bisa bangkit sendiri.
Berdiri di Box
  • Berdiri di Box. Sejak usia 4 bulan, Al sudah masuk sekolah bersama bundanya. Karena itu, di sekolah kami menyediakan box sebagai tempat tidurnya. Dan mulai ajarkan bayi untuk berdiri dengan berpegangan pada sisi box. Al sih waktu itu ngga diajarkan sama sekali, tiba-tiba saja dia langsung berdiri dengan berpegangan. Oya, kita tetap harus pastikan sisi box tersebut aman bagi bayi, cukup kuat dan tidak bersudut tajam.
  • Naik-Turun Sendiri. Dengan pengawasan kita sebagai orang tua, berikan kesempatan bagi bayi untuk naik-turun kasur, tempat tidur, atau sofa sendiri. Waktu itu, Al mulai dengan turun dari kasur (Sejak kasus Al beberapa kali jatuh dari ranjang, kami putuskan tidur dengan kasur di lantai dengan tinggi kasur sekira 22 cm dari lantai). Lalu mulai turun sendiri dari sofa.
Turun dari Sofa sendiri
  • Mengejar Mainan. Ketika bayi sudah mulai bisa merayap atau merangkak, mainan yang dibutuhkannya adalah mainan yang bisa digerakkan (Tanpa baterai, apalagi remote control). Bola atau mobil-mobilan bisa digunakan. Ajak anak mengambil mainannya sambil berjalan. Tentu saja mulai dengan jarak yang pendek, lalu mulai dengan jarak yang lebih panjang. Latihan ini akan membantu menguatkan otot-otot kaki dan tungkai.
Kereta Dorong Seperti ini Mulai Banyak yang Menjual
  • Mendorong. Ini adalah mainan terpenting pada tahapan usia bayi belajar berjalan. Zaman dahulu, adik-adik saya dibuatkan Mbah alat yang terbuat dari bambu untuk berpegangan kemudian berjalan memutar (Saya lupa namanya :-D). Nah, sekarang banyak tersedia kereta dorong dari kayu untuk sarana belajarnya. Atau jika memungkinkan, sepeda bayi juga bisa digunakan. Beberapa alat lain seperti bangku dari plastik atau galon air mineral bisa digunakan. Hanya saja pastikan dalam pengawasan orang tua. Mendorong-dorong adalah kegiatan yang sangat menyenangkan bagi bayi. Alaric waktu itu mendorong sepeda roda tiga yang dimilikinya.
  • Berjalan tanpa alas kaki. Kata ibu-ibu tetangga saya, biarkan bayi berjalan di atas rumput yang berembun. Itu akan membuatnya cepat jalan. Entah benar atau tidak mitos tersebut, Alaric di usia sekira 11 bulan sudah saya ajak jalan setiap pagi ke lapangan olahraga dekat rumah. Sepatunya dilepas dan dibiarkan menyentuh aneka tekstur jalan (beraspal, semen rata, tanah, dan rumput berembun). Ini penting untuk membangun indera peraba di bagian kaki. Pegang tangan anak sambil berjalan untuk merasakan banyak tekstur tersebut.
Nah, itu sedikit sharing dari saya tentang stimulus apa yang bisa diberikan agar bayi dapat berjalan. 

Bagaimana dengan penggunaan Baby-Walker?

Untuk Alaric, kami tidak menggunakan alat tersebut. Kebanyakan orang juga tidak menyarankan penggunaan Baby-Walker ini. Anak menjadi kurang kontrol terhadap tubuhnya dan ruangannya. Perkembangan otot kaki pun agak kurang baik karena anak menjadi cenderung jinjit, tidak menapakkan kakinya dengan baik. Selain itu, dari sisi keamanan penggunaan Baby-Walker rawan dengan kecelakaan yang sangat membahayakan bayi, seperti terjungkal misalnya.

Terakhir, Ayah Bunda harus percaya bahwa setiap bayi memiliki perkembangan masing-masing karena mereka adalah produk Tuhan yang unik. Tak perlu dibandingkan dengan anak tetangga. Jikalau memang sudah 1 tahun belum berjalan, dan bayi masih cenderung untuk merangkak, tak masalah. Berikan terus stimulus yang tepat tanpa harus men-drill atau memaksa anak. Jadikan pengalaman-pengalaman main (termasuk belajar berjalan ini) sebagai pengalaman yang menyenangkan bagi bayi.

Selamat mencoba

20 April 2015

Kapan Bayi Mulai Berjalan?

Setiap bayi lahir dengan keunikannya. Begitupun dengan perkembangannya. Antara satu bayi dengan bayi lainnya memiliki perkembangan yang berbeda-beda. Salah satunya soal kapan seorang bayi mulai berjalan. Ada yang mulai berjalan sebelum ulang tahun pertamanya, ada pula yang mulai berjalan baru menjelang usia 2 tahun. Semua bergantung pada seberapa besar stimulus yang diberikan.

Ayah Bunda tak perlu khawatir tentang ini. Selama masih pada masa usia 8 hingga 18 bulan, perkembangan motorik kasar yang ini (baca: berjalan) masih bisa dikatakan normal. 

Meskipun demikian, banyak mitos yang berkembang soal cepat atau lambatnya seorang bayi melangkah. Kebanyakan orang percaya bahwa ada hubungan terbalik antara pertumbuhan gigi dengan kemampuan jalan bayi. Bisa jadi, perkembangan mitos ini dihubungkan dengan tingkat kebutuhan kalsium anak. Dimana, bayi yang pertumbuhan kalsiumnya ke gigi (baca : gigi tumbuh lebih dahulu), akan sedikit terlambat berjalannya. Nah, sebaliknya anak yang sudah bisa berjalan lebih awal, pertumbuhan giginya akan belakangan.

Al sejak usia 6-7 bulan memang sudah menunjukkan pertumbuhan gigi dimulai dari gigi atasnya. Nah, di usia 11 bulannya, Al sudah memiliki kurang lebih 7 gigi. Berdasarkan mitos, Al akan sedikit lambat jalannya. Seperti keponakan saya yang mulai berjalan di usia 15 atau 16 bulan.

Pede melangkah sendiri
Tapi Al tetap kami (ayah dan bundanya) berikan stimulus. Di sekolah, Al dibebaskan bergerak ke segala ruangan. Karena Al sudah mulai merambat, kami mulai memberikan ruang untuk dia melepaskan diri dari dinding atau sofa yang dia pegang dan mulai meraih orang dewasa atau tempat lain di sekitarnya. Yang penting ayah bunda tidak men-drill bayinya. Toh, kalau pun memang di usia 11 bulan atau 1 tahun belum bisa berjalan sendiri tidak perlu di khawatirkan. Terus berikan stimulus yang tepat (Soal macam-macam stimulusnya akan diceritakan di postingan berikutnya ya:-D)

Alhamdulillah... Al mulai berjalan sendiri tepat di usianya yang satu tahun. So, ayah bunda jangan menyerah ya ;-)

25 January 2015

11 Bulan, Mulai merambat dan Belajar Berjalan

Hari ini (25/1) tepat sudah Al berusia 11 bulan. Tinggal 1 bulan lagi menuju ulang tahunnya yang pertama. Al tergolong anak yang aktif. Di sekolah (Al dititipkan di sekolah tempat bundanya mengajar ~ Al bayi pertama di sekolah), Al juga senang sekali bercanda dengan kakak - kakaknya yang ada di kelas playgroup (PG). Beberapa anak perempuan di kelas PG juga sangat care padanya. Beberapa malah bisa mengajak main atau menjaga keseimbangan tubuh Al saat ia duduk di dekat mereka semua.

Sejak usia 9 bulan kemarin, dia memang sudah mulai memanjat - manjat sofa yang ada di rumah, meskipun masih dibantu dipegangi tangannya. Semakin kesini geraknya semakin aktif. Apalagi sejak mampu memanjat sendiri.

Awalnya kami (Ayah dan Bunda) agak khawatir kalau Al tidak melewati tahapan merangkak. Bagaimanapun merangkak sangat baik bagi bayi. Beberapa teori perkembangan mengatakan bahwa merangkak akan berbanding lurus dengan kemampuan matematikanya nanti. Al yang tadinya hanya berguling kalau ingin berpindah tempat, mulai merayap di usia 9 bulan. Memang tertinggal dibandingkan bayi lainnya. Tapi kami yakin bahwa setiap anak adalah unik, dan memiliki perkembangannya sendiri - sendiri.

Duduk ~ Merangkak ~ Berdiri ~ Merambat
Al mulai belajar berdiri dulu setelah merayap dan duduk. Tapi sejak panas di awal usia 10 bulan kemarin, Al akhirnya bisa merangkak. Dan sekarang, kemana - mana merangkak. Semua sudut rumah dan ruang kelasnya dijelajahi. Bundanya pun mulai kerepotan. Sekarang, Al mulai menjelajah kesana kemari dengan berpegangan pada dinding ataupun sofa.

Selain kemampuan bergerak, Al juga sudah mampu merespon ucapan selamat tinggal atau dadah-dadahan. Tanggannya sudah melambai saat Ayah berangkat kerja, atau berpisah dengan bunda atau guru - gurunya di sekolah. Kemampuan berbicara pun mulai terlihat. Mulai dari yayayah, mamma, dan mam sudah bisa diucapkannya. Kadang saat Ayah membaca Qur'an sehabis subuh atau maghrib, Al ikut berguman seolah - olah memahami dan membaca bersama. Respon suara lainnya juga ditunjukkan saat mendengarkan musik atau Ayah dan Bunda bernyanyi. Karena di sekolah semua guru selalu menyelingi aktifitas belajar dengan nyanyian, Al mampu menggerakkan tangan dan badan untuk merespon lagu dan nyanyian.

Namun sayang, keramahannya mulai berkurang. Saat ini Al perlahan hanya merespon wajah - wajah yang dia kenal atau sering ditemuinya. Orang asing? Wajahnya hanya melihat dengan ekspresi sedikit khawatir. Perkembangan ini wajar meski di usia 4 - 7 bulan Al akrab dengan siapa saja. 

Sehat terus ya nak.....